oleh

Rupiah Terdepresiasi, Biaya Produksi PLN Naik Rp 10 Triliun Lebih

-Ekobis, Ragam Info-180 views
banner 400x130

JAKARTA, POLiTIKA – PT Perusahaan Listrk Negara (PT PLN) menuding nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia sebagai penyebab naiknya beban biaya produksi perusahaan penyedia listrik tersebut membengkak lebih dari Rp 10 triliun pada semester I tahun 2018.
Direktur Utama PLN Sofyan Basyir menyebut sebagian besar pembengkakan biaya operasional berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah, yakni mencapai Rp 6 triliun. Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan batu bara yang digunakan untuk pembangkit listrik. Setiap depresiasi Rp 100 per dolar AS maka biaya produksi PLN naik Rp 1,3 triliun.

Sebetulnya, rugi kurs pada semester pertama bisa menembus Rp 7 triliun. Hanya saja, kata Sofyan, PLN berhemat sekitar Rp 1 triliun setelah pemerintah memberlakukan kebijakan harga batu bara khusus bagi kebutuhan listrik sebesar 70 dolar AS per ton.

“Sejak kebijakan pemenuhan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri domestic market obligation (DMO), sudah ada untung sekitar Rp 100 miliar, dan Juni sudah tercatat Rp 1,1 triliun. Jadi, rugi ya Rp 6 koma sekian triliun,” jelasnya di Gedung DPR RI, Rabu (11/7/2018).

Makanya, ada kekhawatiran bahwa laba PLN akan tertekan lagi hingga akhir tahun. Terlebih, pemerintah juga tidak berencana untuk menaikkan tarif listrik.

Sebelumnya, kenaikan biaya produksi juga menekan laba PLN hingga 71,67 persen, dari Rp 15,6 triliun pada 2015 menjadi hanya Rp 4,42 triliun pada tahun lalu.

Baca Juga : Jubir PA 212 : TGB Jual Agama Demi Politik
Baca Juga : Bupati Lutra Jadi Pembicara di Konferensi Internasional

“Sebenarnya, komponen kenaikan harga minyak, inflasi, batu bara, dan kurs ini masih bisa kami tahan. Tapi, laba kami terjun bebas,” katanya..

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, PLN sebetulnya masih membukukan laba operasional, kendati biaya kurs membengkak. Peluang mengurangi kerugian kurs masih bisa terjadi sampai sisa tahun ini karena kurs sifatnya fluktuatif.

Hanya saja, ia tak mau membeberkan nilai laba operasi pada semester I 2018. Alasannya, masih akan menunggu hasil audit dari auditor independen.
“Jadinya, yang paling utama itu bahwa kami masih punya laba operasi. Sudah itu saja. Kalau kurs itu kan naik turun saja, yang paling penting operasinya masih bagus,” katanya.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi 6,36 persen antara Januari hingga Juni. Hingga Selasa (11/7/2018), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai Rp 14.391 atau lebih tinggi dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yakni Rp 13.400. (rus)

Komentar

Berita Lainnya