oleh

Golfud Mulai Bergulir di Media Sosial

banner 400x130

JAKARTA, POLiTIKA – Pengakuan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD tentang penyebab kegagalannya dipilih sebagai cawapres terus menggelinding menjadi isu politik baru yang memunculkan beragam tanggapan.

Salah satunya muncul golongan Mahfud MD yang disingkat Golfud. Akronim ini bukan golongan serius seperti golongan atau kubu Jokowi vs Prabowo, tapi ungkapan bagi pihak-pihak yang pro terhadap Mahfud MD.

Istilah itu di antaranya diungkap oleh aktivis Twitter yang juga intelektual muda NU, Akhmad Sahal, lewat akunnya @sahaL_AS. Golfud ditujukan untuk memilih kandidat di Pilpres 2019, agar kandidat terburuk tidak berkuasa.

“Sebelum tampil di ILC tadi malam, saya bertemu Pak Mahfud, dan saya tanya sikapnya tentang golput. Pak Mahfud enggak setuju golput. Menurutnya, pemilu bukanlah untuk memilih orang terbaik, tapi mencegah yang lebih jahat berkuasa. Ini bukan golput, tapi golfud: Golongan Mahfud,” kicau Sahal.

Hal yang sama disuarakan oleh budayawan Goenawan Muhammad, dengan memberi penegasan akan tetap memilih Jokowi meski cawapresnya bukan Mahfud MD.

Baca Juga : Bupati Beri Kemudahan, Lutra Surga Bagi Investor

 

Sekjen PSI, Raja Juli Antoni, menyebut istilah golfud yang ramai di Twitter mungkin tak bisa dipungkiri banyak yang kecewa Mahfud gagal menjadi cawapres. Namun yang terpenting, golfud atau golongan apa pun namanya, tidak golput.

“Ada yang masih kecewa dengan proses pemilihan cawapres Pak Jokowi. Saya kira kekecewaan itu wajar, sebuah proses politik konstitusional yang mesti kita sempurnakan di kemudian hari. Namun yang penting Golfud tidak Golput dan tetap dukung Pak Jokowi menuntaskan agenda pembagunan dan kesejahteraan rakyat,” papar Toni, Kamis (16/8/2018).

Sambil mengkritik Prabowo, Toni mengimbau para pendukung Mahfud tetap memilih Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

“Golfud mesti nyoblos Jokowi tahun depan, jangan sampai gak datang ke TPS kecuali kalau menginginkan gaya kepemimpinan otoriter-militeristik ala orde baru kembali berkuasa di Indonesia,” kata Toni. (aga)

Komentar

Berita Lainnya