oleh

Gerindra Akui Ini Pilres Terberat Bagi Prabowo

banner 400x130

MAKASSAR, POLiTIKA – Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani merasakan, pilpres kali ini memiliki bobot terberat Prabowo Subianto menjadi calon presiden. Sebab, saat ini, koalisinya merasa Prabowo ‘dikepung’.

“Kami merasakan, terus terang ini adalah bobot terberat beliau menjadi calon presiden. Jadi, kami merasa bahwa Prabowo saat ini dikepung,” kata Muzani di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Ia menceritakan, Prabowo sudah merasakan tiga kali maju dalam pilpres. Pertama, 2009, menjadi calon wakil presidennya Megawati, saat menghadapi petahana Susilo Bambang Yudhoyono untuk periode kedua.

“2014, Pak Prabowo bertanding ataupun menghadapi Pak Jokowi (Joko Widodo) yang keduanya bukan incumbent. Sekarang 2019, Pak Prabowo kembali maju menjadi penantang Pak Jokowi selaku petahana. Dari tiga kali maju Pak Prabowo sebagai presiden, yang kebetulan saya tetap jadi sekjen partai yang mengusung beliau,” kata Muzani.

Pada Pilpres 2009, sekalipun saat itu lawan Megawati-Prabowo adalah calon petahana, SBY-Boediono, Ia tidak merasakan ada pengerahan bupati, wali kota, gubernur semasif seperti saat ini. Pilpres 2019 ini, gubernur, bupati, wali kota seperti dikerahkan untuk memberikan deklarasi dukungan ke Jokowi-Ma’ruf.

Baca Juga : KPK Persilakan Amien Rais Bongkar Kasus Lama Yang Mengendap

“Event bupati yang kita usung pun tidak memiliki keberanian untuk menyatakan dukungan kepada Pak Prabowo-Sandi. Meskipun, kami juga menyatakan bapak ibu kewajibannya adalah memberikan pelayanan kepada rakyat di kabupaten, di kota, di provinsi yang sedang dipimpin. Biarlah kewajiban untuk memenangkan Prabowo-Sandi menjadi kewajiban partai pengusung dan tim pemenangan yang sudah kita bentuk,” terang Muzani.

Suasana ‘berat sebelah’ juga dirasakan, manakala Prabowo-Sandi berhadapan dengan lembaga survei. Beberapa kali mereka minta bantuan lembaga survei, mereka keberatan dengan alasan satu dan lain hal.

“Kami juga merasakan di beberapa pemberitaan media dan headline itu semua menampilkan headline penguasa kegiatan penguasa petahana, tidak ada pemberitaan yang berimbang. Untuk berimbang pun berat, ada pemberitaan berat. Kami merasakan bagaimana pengusaha-pengusaha itu, dengan berat hati untuk membantu kami dan bersembunyi-sembunyi, karena mereka mengatakan bahwa proyek kami dengan pemerintah, APBN atau APBD terancam,” ujar Muzani.

Muzani menyebutkan, Prabowo tidak boleh dalam situasi unggul di survei atau dimungkinkan bisa menang. Tone pemberitaan Prabowo juga tidak boleh positif.

“Kami merasa, ada upaya pengepungan kepada Pak Prabowo, sehingga kemenangan itu tidak mudah dicapai. Meskipun demikian, kami merasa rakyat bersama kami. Kami merasa bahwa keluhuran cita-cita perjuangan yang kami dapatkan betul-betul mendapatkan respons positif dari masyarakat. Sehingga, kami merasa keyakinan itu akan sampai kepada rakyat,” tegasnya. (aga)

Komentar

Berita Lainnya