oleh

ABG di Jateng Fly Gunakan Air Rebusan Pembalut

banner 400x130

JAKARTA, POLiTIKA – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, menemukan tren baru perilaku menyimpang anak-anak dan remaja di daerah tersebut untuk ber-fly dengan cara meminum air rendaman pembalut yang direbus.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng Ajun Komisaris Besar, Suprinarto, mengatakan, BNNP Jateng menemukan tren fly dengan minum air pembalut tersebut berawal dari informasi masyarakat yang ditelusuri oleh pihak BNNP Jateng. Meski bukan gaya baru, kemunculan gaya ini tengah santer di masyarakat Jawa Tengah seiring sulit dan mahalnya mendapatkan narkoba jenis sabu.

“Sebenarnya ini bukan cara baru, di luar Jateng sudah beredar. Nah kalau di sini kami dapat dari informasi masyarakat yang kemudian kami telurusi. Kebanyakan terjadi di daerah Pantura pinggiran seperti Demak, Kudus, Pati dan Rembang,” kata Suprinarto, Rabu (7/11/2018), dilansir CNNIndonesia.com.

Dari hasil penelusuran, mereka yang mengkonsumsi air rendaman pembalut yang direbus ini adalah anak-anak dan remaja jalanan yang selama ini biasa fly dengan menghirup lem, minum obat batuk cair dan pil koplo. Ironisnya, awalnya pembalut yang digunakan adalah pembalut lama di tempat-tempat pembuangan sampah. Namun, atas pertimbangan kebersihan dan higienis, pembalut yang digunakan sekarang adalah pembalut baru.

Baca Juga : Mamasa Diguncang Gempa Lagi

“Kebanyakan mereka itu anak-anak dan remaja jalanan yang biasa ngelem, ngomix dan ngoplo. Karena sekarang sabu mahal dan susah, lem pun juga harganya naik, dan pil koplo juga naik, mereka ini beralih ke pembalut. Awalnya pembalut bekas yang di tempat sampah, tapi sekarang ke yang baru karena bersih,” kata Suprinarto.
Atas tren yang berkembang ini, pihak BNNP Jateng tidak bisa memberikan tindakan kepada pelakunya karena barang yang digunakan adalah barang legal. Meski demikian, BNNP Jateng akan memberikan edukasi kepada pelaku bahwa perilaku mereka menyimpang yang dapat merugikan kesehatan.

“Kami tidak bisa menindak mereka, tindakan hukum tidak bisa karena barang yang digunakan legal dan bukan narkotika atau psikotropika. Langkah kami yang bisa ya memberikan edukasi kepada mereka bahwa itu perilaku menyimpang yang merugikan kesehatan,” ucap Supri. (aga)

Komentar

Berita Lainnya