oleh

Johannes Kotjo Ngaku Lobbi Sofyan Basir Saat Ditangkap KPK

-Berita, Ekobis, Korupsi-449 views
banner 400x130

JAKARTA, POLiTIKA – Pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo mengungkapkan bahwa ada ketidaksepakatan antara investor dan PT PLN (Persero) untuk kegiatan operasional PLTU Riau-1. Itu disebut Kotjo tidak berakhir mulus karena KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) saat ia akan melobi Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir.

Kotjo menyatakan itu, saat diperiksa sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap kesepakatan kontrak kerja sama proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa Eni Maulani Saragih di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (18/12/2018).

Menurut Kotjo, awalnya PLTU Riau-1 digarap konsorsium yang terdiri atas PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI), Blackgold Natural Resources (BNR) Ltd, dan China Huadian Engineering Company (CHEC) Ltd. Kotjo merupakan pemilik BNR, yang mengajak CHEC Ltd sebagai investor dari China dalam proyek itu.

Komposisi saham dalam konsorsium tersebut adalah PT PJBI 51 persen, CHEC Ltd 37 persen, dan BNR Ltd 12 persen. Sedangkan penyedia batu bara untuk proyek adalah PT Samantaka Batubara, yang merupakan anak usaha dari BNR Ltd.

Baca Juga : Polisi Ringkus Lima Begal Sadis

Untuk urusan tarif, Kotjo mengatakan listrik itu akan dijual 5,39 sen per kilowatt hour (kWh). Menurut Kotjo, harga itu sudah paling murah. Kotjo pun mengaku bersama mantan anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih mendorong PLN agar proyek itu segera direalisasikan.

“Jadi ya kita (Eni dan Kotjo) nge-push (tarif) ini sudah paling murah. Waktu kurs (dolar Amerika Serikat) belum Rp 14 ribu, cost-nya cuma 700 perak. Padahal PLN jualnya Rp 1.000, Rp 1.200, jadi untung. Padahal di Jawa banyak yang rugi,” kata Kotjo dilansir detik.com.

Namun, menurut Kotjo, setelahnya ada ketidaksepakatan antara PLN dan CHEC Ltd, yaitu untuk urusan operasional proyek. Hal ini yang dibicarakan Kotjo dengan Sofyan Basir.

“CHEC minta 20 tahun baru diserahkan ke PLN. PLN mintanya cuma 15 tahun, kenapa? Karena kalau 15 tahun, utang-utangnya sudah dibayar semua. Jadi itulah yang masih belum selesai,” ucap Kotjo.

Untuk menyelesaikan hal itu, Kotjo bertemu dengan Sofyan melalui fasilitas yang diberikan Eni. Namun, menurut Kotjo, hingga akhirnya dia ditangkap KPK, ketidaksepakatan itu belum menemui titik terang.

“Pak Sofyan bilang 15 tahun. Sekarang saya berusaha supaya CHEC setuju,” kata Kotjo.

“Sudah sempat ada kesepakatan?” tanya jaksa kemudian.

“Belum. Sebenarnya saat malam saya ditangkap itu, malam itu, saya akan meminta Pak Sofyan untuk bicara dengan bos saya di China agar mereka setuju dengan 15 tahun, (namun) belum sempat karena kita sudah di-OTT malam,” jawab Kotjo lagi. (aga)

Komentar

Berita Lainnya