Harga Turun 100 Persen, Petani Sayur Terancam Krisis Berkepanjangan

“Kondisi perekonomian kami semakin terpuruk termasuk petani yang hanya menggarap lahan sewaan, bukan milik sendiri,”

TOMOHON-Tidak hanya pekerja sektor informal yang merasakan dampak pandemi global civid 19. Namun, para petani sayur di kota Tomohon juga ikut mengeluhkan harga sayur mayur di pasar lokal maupun ditingkat petani yang terus terpuruk. Akibat anjloknya harga sayur mayur tersebut, hasil panen petani tidak bisa menutupi biaya produksi yang dikeluarkan mulai dari menggarap sampai panen.

“Kami berharap harga sayur-mayur dapat kembali normal, sehingga penghasilan petani kembali normal seperti biasa, meskipun dalam situasi pandemi. Kami berharap pemerintah tidak memandang sebelah mata terhadap masalah yang sementara melilit petani sayur-mayur di kota Tomohon,” keluh Steven, salah satu petani sayur asal kelurahan Kumelembuai.

Steven menuturkan, salah satu penyebab anjloknya harga sayur mayur di pasar lokal lebih disebabkan oleh daya beli masyarakat melemah akibat dampak dari wabah virus corona. “Kondisi perekonomian kami semakin terpuruk termasuk petani yang hanya menggarap lahan sewaan, bukan milik sendiri,” ujar Steven.

Sementara lanjut Steven, anjloknya harga sayur mayur dipasar lokal justru diikuti dengan kenaikan harga pupuk dan obat-obatan lainnya.  “Harga jual sayur kol dan wortel berkisar Rp 25-30 ribu per karung yang sebelumnya berkisar 50-60 ribu perkarung,” beber Steven sambil berharap Pemkot Tomohon melalui dinas terkait mampu mencarikan jalan keluarnya. “Jika dibiarkan para petani akan menghadapi krisis berkepanjangan dan sudah pasti akan berdampak pada masalah kesejtraan keluarga mereka,” tutup Seteven.(jemmy mokoagouw)

banner