Perlu Kewaspadaan, BKSAUA Kota Manado Sampaikan Skenario Ibadah Jumat Agung & Paskah yang Lebih Aman

MANADO-Peristiwa ledakan bom bunuh diri yang ikut menewaskan 2 korban jiwa serta 19 orang lainnya mengalami luka berat dan ringan di Gereja Katedral, Makasaat minggu, (28/03) hari ini, ikut disesalkan oleh BKSUA (Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama) kota Manado. Dalam pandangan BKSUA, konsep kerukunan dalam berbagai keanekaragaman yang selama ini ikut disampaikan pemerintah termasuk Menteri Agama RI, rupanya belum diterima oleh semua orang, termasuk pelaku utama peledakan bom di Gereja Katedral Makasaar hari ini.

“Belajar dari peristiwa di Makassar hari ini, maka saya mengajak semua komponen agama di kota Manado maupun provinsi Sulut, dalam rangka menghadapi Jumat Agung dan Paskah, mari kita tetap waspada termasuk kita ikut berdoa, karena dalam keyakinan umat Kristen sangat jelas pesan yang disampaikan Yesus sebelum kematiaaNya adalah, hendaklak kamu waspada dan berjaga-jagalah,” pesan Ketua BKSUA kota Manado Pdt. Melki Tamaka, M.Th.

Pendeta dengan sejuta kharisma melayani ini mengatakan, dengan menanamkan kewaspadaan pada diri kita (anggota jemaat, maksudnya), maka kita akan mampu meminimalisir peristiwa apapun disekitar kita, termasuk ancaman bom. “Ledakan bom bunuh diri di Gereja Katedral hari ini merupakan sebuah tanda kepada kita, bahwa kita jangan lengah. Kita harus mampu mendeteksi siapapun anggota jemaat yang berada disekitar kita, termasuk ketika kita berada di halaman dan gedung gereja. Jika ada yang kita tidak kenal, segeralah mungkin menyampaikan pemberitahuan kepada pelayan khusus di kolom maupun jemaat,” jelas Tamaka, yang juga Sekretaris Departemen Litbang dan Kearsipan Sinode GMIM ini.

Selain melakukan deteksi awal terhadap anggota jemaat yang ada disekitar kita, elemen-elemen Gereja yang sudah saat ini seperti Panji Yosua diharapkan mampu memainkan peran yang lebih strategis dalam rangka melakukan pengawasan dan penjagaan terhadap kegiatan ibadah yang akan berlangsung dalam pekan ini mulai dari ibadah jumat agung, perjamuan khusus sampai paskah nanti. “Perlu ada peran lebih dari Panji Yosua P/KB GMIM, selain jika ada pengawasan yang akan dilakukan dari pihak Kepolisian nanti. Gereja-gereja yang berada dikawasan perkotaan di kota Manado memang perlu kewaspadaan eksra. Karena, meskipun terjadi di kota Makassar, namun kita juga perlu mewaspadai ancaman yang sama di kota Manado maupun provinsi Sulut,” harap Tamaka.

Melihat kondisi ini, maka dalam memaknai sengsara Yesus dalam ibadah jumat agung dan perjamuan kudus yang akan dilaksanakan warga GMIM pada Jumat, (02/04) mendatang serta hari raya Paskah pada minggu, (04/04) mendatang, maka sebaiknya tidak perlu membawa tas atau benda sejenis yang dinilai terlalu besar, yang dapat mencurigakan. “Cukuplah kita membawa Alkitab atau keperluan ibadah lainnya. Kalaupun ada jemaat yang membawa tas terlalu besar atau barang yang mencurigakan, maka sebaiknya barang tersebut perlu diperiksa.

Lanjut Pendeta Tamaka, salah satu kendala dari pelaksanaan menjalankan kerukunan umat beragama di Indonesia termasuk di Sulut dan di kota Manado adalah, implementasinya hanya sebatas di kulit saja dan belum men-jemaat dengan baik sampai ke akar rumput. Kedepan lanjut Tamaka, pihaknya (BKSAUA Manado,red) akan lebih memantapkan implementasi kerukunan sampai pada keterkaitan dengan program pemerintah kota Manado seperti, bagaimana pola jemaat memilihara kebersihan di kota Manado, meminimalisasi angka kriminalitas serta bagaimana tanggung jawab jemaat terhadap program pemerintah kota kedepan. “Setiap 3 bulan nanti kita akan evaluasi, sehingga peranan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh pemuda maupun elemen lainnya diharapkan akan berkontribusi terhadap pembangunan kota Manado kedepan,” harap Tamaka, yang juga mantan Plt. Ketua BPMJ GMIM Torsina Tumumpa.(dita)

banner