Di GMIM Bukit Hermon Kombos, Prajurit TNI & Mahasiswa Dela Sale Menyatu Dalam Ibadah Perjamuan Kudus

MANADO-Makna peringatan kematian Yesus di bukit Golguta yang dilaksanakan seluruh umat Kristen di seluruh dunia dalam bentuk ibadah jumat agung dan perjamuan kudus Jumat, (02/04) hari ini, juga diperingati oleh jemaat GMIM Bukit Hermon Kombos Kairagi Satu. Meskipun hanya terdiri dari 3 kolom, namun baik ibadah jumat agung yang dilaksanakan pukul 09.00 WITA maupun ibadah perjamuan kudus yang dilaksanakan pukul 15.00 WITA, dihadiri seluruh jemaat termasuk jemaat simpatisan yang umumnya terdiri dari mahasiswa Unika Dela Sale Manado maupun Kodam XII Merdeka.

Pendeta Sientje Panekenan-Panggey, S.Th bersama pelsus GMIM Bukit Hermon Kombos.(ist)

Karena animo jemaat untuk mengikuti ibadah jumat agung maupun perjamuan kudus tahun ini membludak, BPMJ terpaksa ikut memanfaatkan halaman samping kanan gedung gereja untuk menampung antusias jemaat. “Mungkin karena tahun 2020 lalu tidak ada perayaan perjamuan kudus di gereja karena pandemi covid 19, sehingga antusias jemaat terlampiaskan di tahun ini. Kami bersyukur ada banyak anak-anak mahasiswa Dela Salle maupun Prajurit TNI dari Kodam XIII Merdeka yang ikut mengambil bagian dalam pelayanan peringatan kematian Isa Almasih hari ini,” kata Sekretaris Jemaat GMIM Bukit Hermon Pnt. Chrisanty Ganap, S.Kep. Ns. M.Kes.

Pendeta Sintje Panekenan-Panggey, S.Th dalam kotbah peringatan jumat agung tadi pagi mengatakan, kematian Yesus di kayu salib di bukit golguta merupakan sebuah bukti cinta kasih Allah yang ditunjukan kepada umat manusia. “Kematian Yesus berbeda dengan kematian manusia. Kematian Yesus diikuti dengan perubahan alam selama 3 jam, yang ikut menunjukan kepada manusia bahwa, Dialah Anak Allah,” kata Pendeta Panggey, yang juga alumni Fakultas Teologia UKI Tomohon ini.

Ibadah peringatan kematian Isa Almasih yang berlangsung hening di jemaat GMIM Bukit Hermon Kombos hari ini.(ist)

Dalam khotbahnya di ibadah perjamuan kudus pada pukul 15.00 WITA, Pendeta pelayanan di GMIM Solagratia Kaiwatu-Kairagi II ini mengatakan, roti dan anggur yang akan dinimati dalam perjamuan kudus merupakan sebuah simbol bahwa darah Yesus telah tercurah di bukit Golguta guna penebusan dosa-dosa umat manusia. “Dia tidak hanya menderita dan mati, tetapi Dia juga kelak akan bangkit dan naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi saudara dan saya,” pesan Pendeta Sin (sapaan akran Pendeta Panggey).

Setelah melaksanakan perjamuan kudus di gedung gereja, BPMJ juga ikut melaksanakan perjamuan di rumah-rumah anggota jemaat yang tidak sempat hadir di gedung gereja karena pertimbangan lansia atau sakit. “Ini merupakan program tahunan yang kita laksanakam di rumah-rumah anggota jemaat, sebagai bentuk kepedulian gereja terhadap anggota jemaat yang rindu mengikuti ibadah perjamuan kudus hanya kerena keterbatasan sakit atau sudah tua atau kendala lainnya,” tambah anggota BPMJ lainnya Penatua Prety Andalangi-Sumual.(jemmy)

banner