Bikin Petani Untung Melimpah, Tuur Maasering Hidupkan Petani Saguer

TOMOHON-Destinasi wisata Tuur Maasering yang terlatk di kelurahan Kumelembuay, Kota Tomohon tidak hanya mampu memikat wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, destinasi wisata yang ikut memadukan suasana alam pegunungan dengan pelestarian pohon enau tersebut, belakangan mampu memberikan effeck ekonomi yang cukup tinggi terhadap masyarakat sekitar.

Betapa tidak, jika hasil produksi pohon enau yang selama ini hanya dijadikan minuman lokal jenis Saguer, namun dengan hadirnya destinasi wisata baru Tuur Maasering, para petani Saguer di kelurahan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Minahasa tersebut, konon, sudah bisa menghasilkan pendapatan Rp 8 jutaan per bulan, karena hasil olahannya (Saguer) sudah bisa dijual ke Tuur Maasering. “Kalau dulu mungkin hanya bisa dikonsumsi masyarakat lokal saja, dan harga per botolnya tidak lebih dari Rp 5 ribu rupiah,” tutur Om Jhon, salah satu petani saat bersua dengan politika news pekan lalu.

Menurut pria yang sejak tahun 1982 menekuni profesi sebagai petani saguer di kota Tomohon ini, sebelum Tuur Maasering beroperasi tahun 2020 lalu, produksi Saguer hanya dipajang di sejumlah rumah-rumah penduduk ataupun di warung-warung kecil milik penduduk lokal, dan jumlahnya tidak lebih dari 10 botol. Pembelinya lanjut Om Jhon adalah, masyarakat sekitar maupun masyarakat yang secara kebetulan melewati jalur tersebut. “Bersyukur jika dalam sehari 5 botol bisa terjual, soalnya minuman jenis ini juga tidak semua orang suka karena memilki ciri khas rasa tertentu,” kata pria yang berhasil melanjutkan studi 2 orang anaknya ke bangku perguruan tinggi negeri, hanya karena pruduksi saguernya yang di beli Tuur Maasering.

Owner Tuur Maasering Jefri Polii, SI.k saat bersua dengan politika news pekan lalu mengatakan, sudah menjadi kewajiban moril Tuur Maasering untuk memberdayakan petani lokal, karena simbol usaha dari Tuur Maasering adalah pohon enau. “Multiplier effeknya tidak hanya pada kegiatan usaha pengembangan pariwisata semata, tapi saya berharap semua masyarakat lokal bisa dihidupkan dengan adanya Tuur Maasering,” kata Polii.

Bagi Ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Kota Tomohon ini, kehadiran Tuur Maasering juga tidak hanya berdampak pada masyarakat petani lokal, namun juga berdampak pada pemberdayaan generasi muda setempat, yang selama ini masih sulit untuk mendapatkan pekerjaan, akibat pandemi covid 19. “Setidaknya ada 40 karyawan yang diberdayakan, dan masyarakat lokal ikut menjadi prioritas dalam rekrutmen kami,” jelas Polii, yang saat ditemui sedang menunggu salah satu anaknya yang sedang berlatih bulu tangkis di gelanggang olahraga di kawasan Kinilow.(ms)

banner