Bantah Pemberitaan Media, Ini Penjelasan Akurat Prof Pasandaran Terkait IKU Unima

Prof. Dr. Sjamsi Pasandaran (Kanan) bersama Rektor Unima Prof. Dr. Deitje Katuuk, Mpd.(wa)

TONDANO-Ketua Tim Pengembangan Universitas Negeri Manado (Unima) akhirnya ikut memberikan klarifikasi terkait pemberitaan sejumlah media yang ikut menempatkan Unima berada selevel lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Sulut maupun nasional, dalam penetapan IKU (Indikator Kinerja Utama) kluster Satker yang dilakukan Kementrian Pendidikan, kebudayaan, Riset dan Teknologi RI baru-baru ini di Jakarta.

Hal prinsip ini ikut disampaikan langsung Ketua Tim Pengembangan Unima Prof. Dr. Sjamsi Pasandaran, Mpd dalam sebuah diskusi bersama politikanews.com Rabu, (12/08) hari ini. Pakar Ilmu Ekonomi Perencanaan FIS Unima ini mengatakan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi baru-baru ini ikut memberikan informasi kepada masyarakat mengenai profil dan mutu dari perguruan tinggi, serta untuk melakukan pengendalian mutu perguruan tinggi. “Aplikasi ini dinamakan Papan Informasi dan Data Institusi Pendidikan Tinggi (Pindai Dikti),” jelas Pasandaran.

Pindai Dikti menurut mantan Pembantu Rektor V Unima ini, nantinya akan membagikan sejumlah PTN di Indonesia dalam 3 Kluster yakni, kluster BLU (Badan Layanan Umum), PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) dan Kluster Satker (Satuan Kerja). “Unima sendiri masuk dalam kluster Satker, yang datanya telah diinput dan dalam perangkingan masuk rangking 6 dari 24 PTN yang terdaftar di kluster Satker,” beber Pasandaran. Sementara, PTN lainnya di Indonesia termasuk UGM maupun Unsrat, berbeda kluster dengan Unima. “Jadi, pemberitaan yang menyebutkan bahwa Unima mengungguli UGM itu keliru, karena berbeda kluster dengan Unima dalam penilaian Kemendikbudristek,” ucap Pasandaran.

Lanjut Pasandaran, selain berbeda kluster, penilaian Kemendikbudristek ini masih akan berlanjut ke tahapan lainnya, seperti tahapan verifikasi data. Data yang dimaksud adalah, data terkait prosentase staf pengajar atau dosen yang berpendidikan doktor (S3), data terkait prosesntase serepan alumni Unima yang diterima di pasar kerja serta data akurat lainnya. “Makanya, tim verifikasi internal Unima dijadwalkan esok akan di kumpulkan Ibu Rektor (Maksudnya, Prof. Dr. Deitje Katuuk) untuk membahas kesiapan data yang nantinya akan dibutuhkan oleh tim verfikasi kementrian di Jakarta,” kata Guru besar ilmi pendidikan ini.

Saat melakukan verifikasi internal kata Prof Sjamsi, pihaknya akan sangat hati-hati dan selektif dalam melakukan verifikasi, mengingat data yang diminta umumnya diisi oleh dosen. “Kami sangat hati-hati karena akan berpengaruh pada pengurangan nilai oleh tim Kementrian. Makanya, sebelum di verifikasi di Kementrian diawali dulu dengan verifikasi di internal Unima, karena kami butuh data valid dan akurat,” tutur Pasandaran yang juga suami tercinta dari Rektor Unima Prof. Dr. Deitje A Katuuk, Mpd.

Upaya ini perlu dilakukan tim verifikasi internal mengingat, capaian target nasional yang sebelumnya sudah ada kesepakatan antara seluruh Rektor PTN di Indonesia dengan pihak Kemendikbudristek. “Perangkingan juga berpengaruh pada dana insentif yang akan diterima oleh Universitas dalam APBN tahun 2022, termasuk ada sanksi yang akan diberlakukan oleh Kementrian,” jelas Pasandaran menutup pembicaraan singkat hari ini.(ms)

banner