Diciduk Bareskrim Polri, Ketua Sinode ; Yahya Waloni telah Melecehkan Ajaran Umat Kristiani

Ketua Sinode Germita Pdt. Arnol Abbas (kiri) saat selfi bersama Presiden Jokowi.(fb)

TALAUD-Upaya penangkapan yang dilakukan Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri terhadap Ustad Yahya Waloni, tidak hanya mendapat dukungan moral dari sejumlah tokoh agama di Indonesia. Namun, dukungan yang sama juga disampaikan Ketua Sinode Germita (Gereja Masehi Injili di Talaud) Pdt. Dr. Arnol Abbas, M.Th. Kepada politikanews.com, Pendeta Arnol menyampaikan, pihaknya ikut memberikan apresiasi terhadap langkah cepat yang dilakukan Kepolisian RI. “Jujur saya mengatakan bahwa, kami ikut mendukung penuh upaya hukum yang dilakukan Polisi terhadap Ustad Yahya Waloni yang selama ini sangat menganggu kuatnya hubungan persaudaraan antar sesama pemeluk agama di Indonesia,” kata Pendeta Arnol.

Menurutnya, dalam menyampaikan ajaran, Ustad Yahya Waloni sudah melecehkan ajaran umat Kristiani yang ikut mengkerdilkan Yesus Kristus sebagai tokoh skaral dan tokoh yang sangat dihormati oleh umat Kristiani di Indonesia bahkan di dunia. “Pernyataan-pernyataan yang disampaikan secara terbuka oleh Yahya Waloni sangat melukai hati umat Kristiani. Tapi, kita bersyukur umat Kristiani di Indonesia termasuk di Sulut tidak terpancing dengan dakwah yang dilakukan Waloni,” tutur Abbas, Pendeta yang sukses menggelar pelaksanaan Sidang Sinode Am Suluttenggo di Melonguane, Talaud tahun 2020 lalu.

Kakak kandung staf khusus Bupati Minasaha Utara Triust Abbas ini mengatakan, model dakwah yang dilakukan oleh Ustad Yahya Waloni sudah melewati nilai-nilai budaya dan kemanusian yang berlaku di Indonesia. Padahal, lanjut Pendeta Arnol, sejak dahulu kala, nenek-moyang kita ikut mengajarkan betapa pentingnya kita untuk saling menghormati, menghargai bahkan mencintai sesama mahluk ciptaan Tuhan. “saya banyak berharap tidak akan ada lagi generasi Yahya Waloni di Indonesia. Dan kepala aparat penegak hukum, saya berharap Yahya dihukum sesuai dengan aturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia, supaya tidak ada lagi sosok yang meniru Yahya Waloni dikemudian hari,” harap Pendeta.

Masih menurut Pendeta Arnol, jika Ustad Yahya Waloni mengklaim diri berasal dari Nusa Utara (Kab. Talaud, Kab. Sangihe dan Kab. Sitaro di Provinsi Sulut, maksdunya), maka kondisi itu sangat kontraproduktif dengan karacter dan buaya masyarakat Nusa Utara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan antar pemeluk agama. “Warga Nusa Utara tidak memiliki karacter seperti itu. Mungkin beliau (Yahya Waloni, maksudnya) telah meniru budaya yang lain,” jelas Pendeta Arnol seraya mengingatkan bahwa tugas warga gereja saat ini untuk tidak terpancing bahkan sebaliknya mendoakan Ustad Yahya Waloni.

Sebelumnya, Ustadz Yahya Waloni ditangkap di rumahnya di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Ustadz Yahya Waloni ditangkap, Kamis (26/8/2021) sore kemarin. Penangkapnya adalah Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen. Pol. Argo Yuwono mengatakan Yahaya Waloni ditangkap sore tadi. “Ya ditangkap di rumahnya di Cibubur,” kata Argo.(ms)

banner