TAHUNA-Enam buah armada kapal motor yang bernauang dibawah bendera PT. Surya Pasifik Indonesia (SPI) rupanya tidak hanya menjadi moda transportasi laut bagi masyarakat yang menetap di kabupaten kepulauan Sangihe, kabupaten Sitaro maupun kabupaten kepulauan Talaud.
Namun, KM Barcelona 1, 2, 3A dan VA serta KM Venecian maupun KM Marani Bay ternyata merupakan satu-satunya moda transportasi laut yang melayani pemuatan jenasah tanpa bayar dari Manado ke kabupaten Sangihe, kabupaten Sitaro maupun ke kabupaten Talaud PP (Pulang Pergi).
“Kapal-kapal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusa Utara termasuk bagi masyarakat yang meninggal di Manado yang jenasahnya akan dibawah ke Sangihe, Sitaro maupun Talaud,” kata Ketua Sinode GMIST (Gereja Masehi Injili di Sangihe & Talaud) Pdt. Dr. Welmam Boba, M.Th.
Kondisi ini secara tidak langsung menurut Pendeta Boba menunjukan bahwa, kapal-kapal tersebut tidak hanya sebatas melayani bisnis transportasi laut di kawasan Nusa Utara, namun ikut juga memperhatikan kesejtaraan masyarakat yang berada di pulau-pulau di kawasan Nusa Utara.
“Kita doakan agar tidak ada hambatan besar yang membuat seluruh aktifitas ekonomi menjadi terganggu. Ingat, banyak sekali kebutuhan-kebutuhan riil masyarakat pulau-pulau yang harus disebrangkan dari Manado ke Tahuna, Sitaro maupun Talaud,” ungkap Boba dalam wawancara bersama media ini Senin, (4/8) lalu.
50 Tahun Mengabdui untuk Negeri
Menariknya, peringatan HUT RI 17 Agustus tahun 2025 mendatang ternyata merupakan momentum spesial bagi PT. Surya Pasifik Indonesia (SPI) yang selama ini melayani jasa transportasi laut dari Manado-Sitaro-Sangihe-Talaud PP.
Bahkan, dalam catatan media ini menyebutkan, PT. SPI sedikitnya sudah beroperasi sejak tahun 1975 dan sejak saat itu sudah mengoperasikan sejumlah kapal penumpang seperti, KM. Fajar Baru, KM. Cemerlang dan KM. Karya Baru.
“Setahu saya, andil dan peran PT. SPI dalam membangun bangsa melalui sektor transportasi laut sungguh luar biasa,” ujar Drs. Salmon Jacobus, tokoh masyarakat Tagulandang.
Menurut dia, tak hanya sebatas menjadi jembatan penghubung masyarakat Nusa Utara dengan kota Manado maupun sesama kabupaten di kawasan Nusa Utara, namun, kapal-kapal tersebut juga ikut mempermudah dan memperlancar pendidikan mahasiswa Unsrat maupun IKIP (Sekarang Unima) asal Tagulandang, Siau, Sangihe maupun Talaud yang menempuh pendidikan di luar Nusa Utara.
“Dulu, orang tua kita di kampung biasanya mengirim biaya SPP hanya melalui jasa kapal-kapal tersebut. Jadi, luar biasa peran yang dimainkan oleh PT. SPI,” ucap Salmon, yang juga mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Sangihe-Talaud ini.(msi)