MANADO-Semua kepala daerah di Indonesia termasuk di Sulut apakah Walikota/Bupati maupun Gubernur biasanya ikut menerapkan protokoler yang cukup ketat di rumah dinas, kediaman pribadi maupun saat kepala daerah berada di kantor pemerintahan. Ketentuan tersebut sesuai dengan Permendagri No 16 tahun 2024 tentang Pedoman Keprotokolan di lingkungan pemerintah daerah.
Namun, kondisi berbeda justru ditemui pada kediaman pribadi Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) Chntya Kalangit, SKM. Sebuah rumah minimalis tanpa pagar depan berukuran sekitar 300 M2 yang terletak di kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal II, Kota Manado justru ditemukan kondisi berbeda. Sepintas dari dekat, rumah tersebut sama persis dengan rumah-rumah yang berada disamping kiri-kanannya.
Tanpa Pos Polisi Pamong Praja, tanpa ruangan tunggu/tamu, tanpa ada security atau bodyguard lainnya, tanpa ada sespri maupun staf rumah tangga sekretariat maupun tanpa ada mobil polisi yang terparkir di dalamnya.
Sekilas saat wartawan ini berada di kediaman tersebut terpantau, semua tamu, pejabat maupun masyarakat Sitaro yang ingin bertemu dengan bupati Chntya Kalangit langsung diterima diruangan tamu.
“Memang benar-benar sederhana. Mungkin bagi mereka jabatan bukanlah sebuah kekuasaan yang harus dipertontonkan kepada masyarakat. Jujur, saya pastikan tidak ada kediaman kepala daerah di Sulut bahkan di Indonesia yang kondisinya seperti ini,” kata Hendrik Kansil, tokoh masyarakat Siau yang kebetulan saat itu ikut juga menjadi tamu bupati.
Pantauan media ini juga menunjukan, semua tamu yang bertandang ke kediaman tersebut ikut diperlakukan seperti saudara sendiri bupati. Karena akses pintu ke ruangan tamu tepat berada di depan, maka semua tamu bisa melihat langsung apakah bupati ada atau sedang tidak berada di kediaman pribadinya.
“Saya ikut memberikan apresiasi terhadap jiwa kepemimpinan bupati bersama keluarga. Ini ikut menjadi tonggak sejarah di Sitaro bahwa, bupati yang mereka pilih tidak pernah membatasi diri dengan masyarakatnya,” tambah Judi Saerang, SH, mantan Sekretaris DPD II Partai Golkar Kab. Kepl. Sitaro.
Menurut Judi, kondisi yang sama tak hanya ditemukan di Manado, namun, sepengetahuannya saat berada di Jakarta dalam urusan dinas maupun keluarga, bupati Chntya bersama suami tidak pernah juga didampingi protokoler.
“Kalau di Jakarta setahu kita biasanya, sopit itu adalah suami (Maksudnya, Reynol Tumbio) dan penumpang itu adalah bupati. Cuma mereka berdua,” ucap Judi yang juga dikenal sebagai teman sebaya Reynol Tumbio.(maxi)


